Menggapai Tujuan Hidup Bersama Al Qur’an

Firman Allah SWT: “Katakanlah (Muhammad) hai hamba-hamba-KU yang beriman (yakin & percaya pada-KU) bertaqwalah kamu kepada Rabbmu, (karena) bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan diberikan kebaikan (kesejahteraan) dan bumi Allah SWT itu amat luas, sesungguhnya hanya bagi orang-orang yang sabar sajalah mereka disempurnakan tanpa hisab.” (QS. 39. Az-Zumar: 10). Pada dasarnya tujuan hidup manusia adalah sama yaitu ingin memperoleh kebahagiaan/kesuksesan dunia dan akhirat, sementara kewajiban/tugas hidup manusia menurut Al-Qur’an adalah mengabdi / menyembah / tunduk patuh pada perintah-Nya.

Akan tetapi tidak sedikit manusia yang lupa akan tujuan hidupnya ini sehingga ia lupa pada hari akhiratnya yang merupakan bagian terpenting dari perjalanan hidupnya dan juga selalu lalai pada Allah SWT, acuh tak acuh dalam mentaati perintah-Nya. Padahal, sesungguhnya, secara logika tujuan hidup manusia itu hanya dapat tercapai jika manusia melaksanakan kewajibannya.Tulisan ini mencoba mengungkap cara-cara yang harus dilakukan seorang mukmin agar tujuan hidup mereka untuk bahagia/sukses di dunia dan akhirat dapat terealisasi melalui pendekatan Al-Qur’an (wahyu) dan sejarah orang-orang terdahulu.

Menggapai Tujuan Hidup (Perspektif Al-Qur’an)
Logika sederhananya yang mudah dipahami, jika kita ingin disayang orang tua kita, diberi apa saja yang diminta dalam hal-hal yang wajar dalam pandangannya, dikasihi, disantuni, diperhatikan dan diutamakan dari yang lainnya serta diberi kesenangan/kebahagiaan olehnya maka kita harus melaksanakan kewajiban kita pada orang tua, mengikuti perintahnya, menyayanginya dan membantunya dalam tugas-tugasnya jika diperlukan. Demikian pula halnya kepada Allah SWT, jika kita ingin diberikan kekayaan (jiwa) tanpa batas, kekayaan harta dalam hal yang wajar kita terima, kecukupan, kasih sayang serta kesuksesan/kebahagiaan hidup oleh-Nya maka kita harus rela mentaati-Nya, mematuhi perintah-Nya, melakukan hal-hal (kebaikan-kebaikan) yang disukai-Nya, menyayangi orang-orang yang disayangi-Nya serta ridha terhadap-Nya dan terhadap pembagianNya.

Allah SWT sebagai Penguasa tunggal bumi, alam semesta dan seisinya serta pencipta segalanya telah menetapkan hukumnya dengan hanya memberi kesuksesan/kebahagiaan/kebaikan dunia dan akhirat hanya bagi orang-orang yang taat dan ketetapan-Nya. Dia hanya akan memberikan kebaikan di dunia dan akhirat) hanya bagi orang-orang yang sepenuh hati (ikhlas) berbuat baik karena-Nya. Pertama, Yakin sepenuh hati pada janji-janji-Nya, bertaqwa dan bersabar karena-Nya. Dalam hadits Qudsiy dijelaskan bahwa Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Abu (berbuat) sesuai dengan prasangka hamba-Ku. (HR. Bukhari Muslim). Firman-Nya lagi “Katakanlah hal hamba-hambaku yang beriman (yakin dan percaya pada-KU) bertaqwalah kamu kepada Rabbmu, (karena) bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan diberikan kebaikan (kesejahteraan/kesuksesan/kebahagiaan) dan bumi Allah SWT itu amat luas, sesungguhnya hanya bagi orang-orang yang sabar sajalah balasan mereka disempurnakan tanpa hisab. (QS. 39. Az-Zumar: 10).

Firman Allah yang keluar dari lisan Nabi Muhammad SAW (hadits Qudsiy) di atas menunjukkan bahwa Allah SWT selalu bersikap/berbuat/bertindak sesuai dengan keyakinan (sangkaan) seseorang pada-Nya. Jika seseorang tidak yakin bahwa Allah SWT akan menolong dan membahagiakannya, maka kuat kemungkinan Allah SWT tidak akan menolong dan membahagiakan-Nya dan jika seseorang tidak yakin akan janji-janji Allah SWT, maka Allah SWT boleh jadi tidak merealisasikan janji-Nya pada hamba-Nya itu sendiri. Itulah sebabnya iman yang sempurna itu tidak boleh diiringi dengan keraguan walau sekecil apapun. Iman yang benar adalah iman yang dapat membuat seseorang bersabar, tetap taat padanya serta Istiqamah dalam kebaikan yang diperintahkan-Nya.

Di samping itu, dalam ayat kedua di atas Allah SWT membujuk hamba-hamba-Nya yang dalam kondisi lemah dan tertekan oleh kaum kafir Quraish (yang ingin berhijrah ke Madinah) dengan kata “Ya Ibadillazina amanu” (hai hamba-hamba-KU yang beriman/yakin pada-KU). Kata-kata ini sangat jarang diungkapkan oleh Allah SWT untuk memanggil manusia dalam Al-Qur’an. Allah lebih sering menggnakan kata Ya ayyuhallazina amanu, Ya ayyuhan nas dan seterusnya.Bujukan ini dibarengi dengan penanaman kekuatan iman dalam jiwa dengan lanjutan ayat; bertaqwalah kamu kepada Rabbmu, (karena) bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan diberikan kebaikan (kesejahteraan/kesuksesan/kebahagiaan) dan bumi Allah SWT itu amat luas, sesungguhnya hanya bagi orang-orang yang sabar sajalah balasan mereka disempurnakan tanpa hisab. Lanjutan ayat ini dengan kokoh meyakinkan orang beriman bahwa dengan tetap menjaga ketaqwaan (ketaatan) pada Allah SWT, pastilah mereka diberikan kebaikan/kesuksesan/kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah juga menegaskan bumi-Nya itu sangat luas seolah-olah Dia berkata jangan takut hijrah ke Madinah mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya meskipun kamu harus meninggalkan keluargamu, harta kekayaan kamu, rumah-rumah kamu yang mewah, kenderaan kamu yang bagus dan indah karena bumi yang Allah SWT ciptakan itu masih luas. Dia yang menciptakannya, Dia juga yang mengaturnya, menentukan kehidupan seluruh makhluk di dalam serta membagi-bagi rezeki pada seluruh hamba-hamba/ciptaan-Nya. Itulah sebabnya Allah SWT menyebutkan di penghujung ayat ini: Sesungguhnya hanya bagi orang-orang yang sabar sajalah balasan mereka disempurnakan tanpa hisab. Ini bermakna hanya bagi orang-orang yang bersabar serta istiqamah mentaat-Nya dalam setiap kondisi/keadaan akan menemukan tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan/kesuksesan/kebaikan/kemenangan dan kemenangan dunia dan akhirat.

Hal ini telah dibuktikan Allah SWT dengan hijrahnya Rasul dan orang-orang yang taqwa ke Madinah akhirnya membuahkan hasil yang gemilang, negara Madinah berdiri, masyarakat Muslim memperoleh kemenangan/kesuksesan/kedamaian/kemakmuran dan kebahagiaan di dunia, dan di akhirat Allah menjanjikan surga bagi mereka. Firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka memiliki derejat yang lebih agung di sisi Allah SWT… (QS. 9 At-Taubah: 20) dan firman-Nya: “Dan orang-orang awalin baik dari kaum Muhajirin (yang berhijrah ke Madinah) maupun kaum An-shor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik maka Allah meridhai mereka dan merekapun ridha pada Allah menjanjikan surga bagi mereka. (QS. 9 At-Taubah: 100).

Kedua, Beriman dan bekerja keras (beramal shalih sebanyak mungkin). Sudah menjadi ketentuan Allah SWT (sunnah-Nya) bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan setiap keburukan pasti dibalas dengan keburukan yang sama. Hukum Allah ini telah berlaku sejak Nabi Adam A.s sampai akhir dunia, dan tidak akan berubah selamanya. Inilah yang menjadi ketetapan atau sunnah Allah SWT. Allah berfirman: Sungguh telah berlaku sunnah Allah (hukum Allah) maka berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana akibat (perbuatan) orang-orang mendustakan ayat-ayat-Nya. (QS. Al-Imran: 137) dan Firman-Nya: Kamu tidak akan menemui perubahan terhadap sunnah Allah SWT itu. (QS. 33 Al-Ahzab: 62).

Wallahu a’lam bishawab.

Di rangkum dari Assatidz Daarul Qur’an ( Ust. A. Rochimi )

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: